Sabtu, 05 September 2015

Artikel



TUNTUNAN, TONTONAN, DAN TELEVISI

Di luar negeri
binatang jadi artis,
di Indonesia
artis jadi binatang.

Pernyataan ini menarik, bahkan sedikit menyentil pelaku film dan penontonnya. Disadari atau tidak, akhir-akhir ini kita selalu disuguhi tontonan-tontonan yang merujuk pada pernyataan tersebut. Fenomena manusia berperan sebagai binatang sudah tidak asing lagi bagi pecinta sinetron Indonesia. Setiap hari kita bisa menjumpai para artis cantik dan ganteng yang setiap saat berubah menjadi binatang buas dan menyeramkan, hampir di setiap stasiun televisi.
Televisi sudah tidak lagi menyuguhkan tontonan yang mendidik. Tokoh yang muncul bukan tokoh yang dapat menjadi teladan, juga tidak bermuatan karakter. Cerita yang disuguhkan pun jauh dari ajaran moral. Porsi sajiannya lebih banyak pada hiburan. Hiburan yang disajikan pun tidak lain hanyalah guyonan ejekan yang berujung pada celaan secara fisik. Akan tetapi, respon positif penonton terhadap sajian tontonan yang “menghibur” karena menampakkan guyonan heboh tersebut semakin membuat stasiun televisi berlomba untuk menyajikan tontonan yang tidak berkualitas itu. Tayangan yang muncul setiap hari dengan sajian yang tidak mendidik itu pun menghipnotis masyarakat untuk menikmati dan akhirnya mengamini bahwa tayangan itu sangat menarik. Parahnya, justru hal yang tidak baik itulah yang akhirnya menjadi tren di masyarakat. Tren tidak mendidik yang populer di masyarakat diantaranya: ejekan terhadap fisik seseorang yang diibaratkan dengan binatang, plesetan pantun, tampilan ala badut, kisah KDRT, perilaku hedonis, sampai kebiasaan membully di sekolah. Fenomena seperti ini sudah menjadi lazim dalam pertelevisian di Indonesia.
Kecenderungan minat masyarakat yang lebih suka menonton daripada membaca membuat tontonan seolah menjadi hiburan satu-satunya bagi mereka. Selain informasi yang disajikan sangat minim, tontonan semacam itu juga menciptakan tren bahwa guyonan dengan mengejek dan menyamakan manusia dengan binatang adalah hal yang biasa. Dari tinjauan manapun, hal ini tidak bisa dibenarkan. Karenanya, masyarakat harus mampu memilih tontonan yang benar, berkualitas, dan mendidik. Kisah percintaan usia dini, cerita siluman, ataupun gaya hidup yang disajikan melalui sinetron harus benar-benar ditinjau kelayakannya untuk dinikmati. Masyarakat harus mampu menjadi penonton cerdas yang bisa mempengaruhi jenis tontonan yang layak disajikan, bukan sebaliknya. Bagaimanapun juga, kelangsungan tontonan tersebut bergantung pada minat masyarakat, karena tayangan televisi selalu menghamba pada rating. Jika masyarakat mampu menjadi penonton cerdas yang kritis menilai baik buruknya tontonan yang mereka nikmati, maka masa hidup tontonan “ecek-ecek” seperti itu tidak akan sampai ratusan bahkan ribuan episode. Episode yang panjang itu pun justru membuat cerita menjadi tidak jelas, tidak sesuai dengan judulnya. Demikian pula dengan acara musik yang lebih banyak menampilkan guyonan antar-host dan games tidak mendidik yang berujung pada “kesakitan” secara fisik. Tontonan seperti ini betah tayang di televisi selama berjam-jam, dari pagi, siang, sampai larut malam secara live. Lalu, kapan kita bisa menanamkan kepribadian berkarakter jika setiap hari suguhan kita tontonan semacam itu?
Selain menjadi penonton kritis, pilihan lain untuk menghindari konsumsi tontonan tanpa tuntunan tersebut adalah dengan buku. Membaca buku dapat menjadi aktivitas yang menarik dan menyenangkan. Kita dapat memilih bacaan mana yang layak untuk dibaca, apalagi jika dalam anggota keluarga ada anak-anak yang masih sangat butuh ajaran moral. Meskipun tidak semua tayangan televisi itu buruk, dan tidak semua buku itu baik, setidaknya dengan buku kita mampu memilih lebih dulu bacaan yang bermuatan positif. Dengan buku pula kita dapat memahami secara berulang hal-hal yang menurut kita baik. Untuk mendapatkan hiburan tidak ada salahnya jika kita memilih karya sastra. Meskipun sering dianggap sepele dan tidak penting, karya sastra mempunyai makna bagi masyarakat. Kehadirannya sekalipun tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi, paling tidak sastra mampu melepaskan pembaca dari segala tekanan, menghibur, dan membantu pembacanya untuk ikut memahami dunia fiksi yang sengaja diciptakan karena ada maksud dan tujuan di dalamnya.
Sekarang, pilihan itu dikembalikan kepada kita. Apakah kita akan membiarkan tontonan tanpa tuntunan seperti itu tetap eksis dalam kehidupan kita, atau kita memilih menjadi masyarakat yang cerdas dan peduli pada tatanan nilai dan karakter positif? Semua bergantung pada kita. Pilihan hidup kita hari ini akan menentukan hidup kita di masa yang akan datang.

Dipublikasikan dalam majalah kampus Caraka vol 1 tahun 2015

Mengapa Harus S3?

Suatu petang, setelah lelah berdiskusi tentang filsafat dan pentingnya pemahaman itu dalam penelitian sastra, saya berjalan menuju pos satpam untuk menunggu ojek yang biasa mangkal di depan kampus. Seorang bapak penjaganya menyapa dan kami pun akhirnya berbincang sebentar. Seperti percakapan pada umumnya menanyakan ini itu yang juga sifatnya umum. Sampai akhirnya beliau bertanya satu hal. "Kok harus S3 kenapa mbak? apa yang mau dicari?" tanya bapak itu lugas. Sejenak hening. Saya menelan ludah. Jawaban apa yang harus saya berikan? 
Dalam keheningan itu beliau berkata lagi," mbak kan sudah dosen, sudah berkeluarga, apa lagi yang mau dicari? gelar ya?"
Saya semakin terhenyak. Akhirnya senyum simpul itu pun nampak di wajah saya. Saya berusaha menenangkan hati untuk mendapatkan jawaban terbaik. Dengan lembut saya jawab pertanyaan beliau.
"Saya ingin belajar, Pak" pernyataan itu yang pertama kali muncul. Mungkin klise terdengarnya. Lalu saya pun melanjutkan.
"Saya merasa tidak memiliki apa-apa. Semakin saya belajar, semakin saya tahu kalau saya tidak mengerti banyak hal. Sementara selama ini saya dianggap sebagai orang yang tahu tentang ilmu yang saya pelajari, karena saya menyandang status dosen." Si Bapak tersenyum.
"Bisa masuk UI berarti kan pinter mbak" seloroh si Bapak tiba-tiba. Saya pun tertawa. 
"Gitu ya Pak? Apa iya si?" kembali saya kembalikan pernyataan di Bapak.
"Iya mbak, masuknya di sini susah. Itu kata orang sih" tambah si Bapak.
"Mungkin hanya kebetulan Pak, rejeki saya mungkin ada di sini. Saya cuma pengen belajar, nambah pengalaman, refresh tempat yang baru. Saya pikir sah saja kalau belajar dengan banyak guru di banyak tempat. Setidaknya bisa membuat saya mampu membedakan dan memahami, jadi tidak hidup dalam satu kotak" 
Kali ini si Bapak yang diam. Kemudian dari mulutnya muncul pernyataan yang sangat bagus menurut saya.
"Siapapun gurunya, dimanapun tempatnya, yang penting dari diri sendiri mbak, mau serius belajar atau tidak. Mereka semuanya pasti mengajarkan sesuatu yang baik, cuman mau nggak tu yang belajar nerapin yang baik tadi"
Tak lama ojek yang saya tunggu pun datang. Saya pamit dan melaju pulang. Dalam perjalanan saya terngiang apa yang disampaikan Pak Dosen Filsafat saat kuliah tadi. Dalam diri manusia, ada yang namanya pengetahuan bawaan. Pembelajaran yg dilakukan guru itu sama halnya dengan bidan. Bidan membantu persalinan, melahirkan bayi yang ada dalam kandungan. Begitu juga dengan guru. Guru sebenarnya tidak mengajari sesuatu yang baru, karena dalam diri individu sudah ada pengetahuan yang hanya perlu dibantu untuk diwujudkan. Keduanya, sama-sama mengeluarkan sesuatu yang sudah ada. Dan itu ada dalam setiap diri manusia. Lalu, masihkah kita tidak mau belajar? mengasah dan mencoba mewujudkan pengetahuan yg sudah ada dalam diri kita? Namun yang harus diingat, bahwa belajar itu tidak harus di dalam kelas dalam suasana akademis. Kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja kita bisa belajar, terutama belajar mengenali diri sendiri, karena di dalamnya ada pengetahuan yg tidak akan pernah muncul dengan sendirinya kecuali dilatih dan diwujudkan.