Sabtu, 05 September 2015

Mengapa Harus S3?

Suatu petang, setelah lelah berdiskusi tentang filsafat dan pentingnya pemahaman itu dalam penelitian sastra, saya berjalan menuju pos satpam untuk menunggu ojek yang biasa mangkal di depan kampus. Seorang bapak penjaganya menyapa dan kami pun akhirnya berbincang sebentar. Seperti percakapan pada umumnya menanyakan ini itu yang juga sifatnya umum. Sampai akhirnya beliau bertanya satu hal. "Kok harus S3 kenapa mbak? apa yang mau dicari?" tanya bapak itu lugas. Sejenak hening. Saya menelan ludah. Jawaban apa yang harus saya berikan? 
Dalam keheningan itu beliau berkata lagi," mbak kan sudah dosen, sudah berkeluarga, apa lagi yang mau dicari? gelar ya?"
Saya semakin terhenyak. Akhirnya senyum simpul itu pun nampak di wajah saya. Saya berusaha menenangkan hati untuk mendapatkan jawaban terbaik. Dengan lembut saya jawab pertanyaan beliau.
"Saya ingin belajar, Pak" pernyataan itu yang pertama kali muncul. Mungkin klise terdengarnya. Lalu saya pun melanjutkan.
"Saya merasa tidak memiliki apa-apa. Semakin saya belajar, semakin saya tahu kalau saya tidak mengerti banyak hal. Sementara selama ini saya dianggap sebagai orang yang tahu tentang ilmu yang saya pelajari, karena saya menyandang status dosen." Si Bapak tersenyum.
"Bisa masuk UI berarti kan pinter mbak" seloroh si Bapak tiba-tiba. Saya pun tertawa. 
"Gitu ya Pak? Apa iya si?" kembali saya kembalikan pernyataan di Bapak.
"Iya mbak, masuknya di sini susah. Itu kata orang sih" tambah si Bapak.
"Mungkin hanya kebetulan Pak, rejeki saya mungkin ada di sini. Saya cuma pengen belajar, nambah pengalaman, refresh tempat yang baru. Saya pikir sah saja kalau belajar dengan banyak guru di banyak tempat. Setidaknya bisa membuat saya mampu membedakan dan memahami, jadi tidak hidup dalam satu kotak" 
Kali ini si Bapak yang diam. Kemudian dari mulutnya muncul pernyataan yang sangat bagus menurut saya.
"Siapapun gurunya, dimanapun tempatnya, yang penting dari diri sendiri mbak, mau serius belajar atau tidak. Mereka semuanya pasti mengajarkan sesuatu yang baik, cuman mau nggak tu yang belajar nerapin yang baik tadi"
Tak lama ojek yang saya tunggu pun datang. Saya pamit dan melaju pulang. Dalam perjalanan saya terngiang apa yang disampaikan Pak Dosen Filsafat saat kuliah tadi. Dalam diri manusia, ada yang namanya pengetahuan bawaan. Pembelajaran yg dilakukan guru itu sama halnya dengan bidan. Bidan membantu persalinan, melahirkan bayi yang ada dalam kandungan. Begitu juga dengan guru. Guru sebenarnya tidak mengajari sesuatu yang baru, karena dalam diri individu sudah ada pengetahuan yang hanya perlu dibantu untuk diwujudkan. Keduanya, sama-sama mengeluarkan sesuatu yang sudah ada. Dan itu ada dalam setiap diri manusia. Lalu, masihkah kita tidak mau belajar? mengasah dan mencoba mewujudkan pengetahuan yg sudah ada dalam diri kita? Namun yang harus diingat, bahwa belajar itu tidak harus di dalam kelas dalam suasana akademis. Kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja kita bisa belajar, terutama belajar mengenali diri sendiri, karena di dalamnya ada pengetahuan yg tidak akan pernah muncul dengan sendirinya kecuali dilatih dan diwujudkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar