Sabtu, 12 Agustus 2017

Kau Hak Guna, Bukan Hak Milik



Kau Hak Guna, Bukan Hak Milik

Siang ini aku datang ke perpustakaan kampus. Kedatanganku kali ini untuk memenuhi undangan pengambilan kunci ruang kubikus untuk ruang kerja sementara dalam rangka menyelesaikan pekerjaanku sebagai mahasiswa. Saat kudatangi meja petugas, yang kudapati hanya kosong. Petugasnya sedang istirahat, Bu, nanti masuk lagi jam setengah dua. Begitulah informasi yang kudapatkan dari petugas lainnya. Ya, ini hari Jumat. Lalu aku pun memilih duduk di sofa ruang tunggu.
Tak lama berselang datanglah seorang perempuan yang tampak kebingungan. Ia pun beberapa kali mencoba mengubungi seseorang, namun gagal. Akhirnya Ia mendatangi meja petugas yang tadi kutanya. Jawabannya sama. Ia pun harus menunggu petugas pemegang kunci yang sedang istirahat.
Perempuan itu berjalan ke arahku. Ia duduk di kursi sebelah yang masih kosong sambil terus sibuk memainkan ponselnya. Di sela waktu menunggu, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami sekadar untuk berbincang. Ya, hal seperti ini sudah sangat lumrah terjadi di kota besar seperti ini. Aku tak beraktivitas apapun. Hanya sesekali menengok ponselku meskipun tidak menampilkan notifikasi. Sementara perempuan itu tetap sibuk menelepon, mengetik pesan, dan entah apa lagi. Yang kuperhatikan darinya hanya satu hal, sepatu.
Aku memang melirik sepatu yang Ia kenakan. Masih kuingat, model sepatu yang sempat ingin kupesan kepada seorang rekan kerja yang menawarkannya padaku waktu itu. Kegemaranku mengoleksi sepatu membuatku sering lapar mata dan sulit menahan hasrat untuk tidak memakainya. Ini sepatu anyaman, Bu, bagus loh. Rayunya waktu itu. Sungguh sangat ingin aku menerima tawarannya. Karena memang beberapa kali aku telah melihat iklan sepatu itu dan akupun kepo dibuatnya. Aku menanyakan harga sepatu itu. Hampir tiga ratus ribu, katanya. Sebagai penyuka sepatu untuk dipakai harian, aku memang merasa harga tersebut pantas. Sepatu yang unik, dan aku belum pernah memilikinya. Sayangnya, waktu itu aku baru saja menerima kiriman sepatu yang kubeli dari teman. Kebetulan Ia sedang plesiran menengok Marlion. Aku beli dua pasang ya. Kataku semangat waktu itu. Belum juga kupakai keduanya, aku jatuh cinta lagi pada sepatu anyaman yang diposting di lapak online. Aku urung memesan. Aku menunda waktu. Melihat sepatu yang dikenakan perempuan itu, aku jadi kembali merasa menyesal. Mengapa waktu itu tak kubeli saja? Toh bisa juga dipakai bergantian. Sepatu yang warnanya kuangggap paling bagus, kini ada di kaki perempuan itu. Dan aku, masih mengenakan sepatu dari Marlion yang dulu juga kunantikan.
Beberapa waktu kemudian, petugas yang kami tunggu pun datang. Petugas yang tadi sempat kami tanyai itu menyilakan kami untuk menemui petugas pemegang kunci. Perempuan itu dengan sigap bangkit dari duduknya dan menuju meja petugas yang tersenyum ramah menyambut kedatangannya. Kubiarkan saja dia dilayani lebih dulu. Perempuan yang kukira berusia empat puluh tahunan itu menyampaikan beberapa pertanyaan. Lalu dari tasnya dikeluarkan sebuah amplop besar, lalu memasukkannya lagi. Entah apa isinya. Aku pun lalu beranjak dan berjalan menuju ke sana. Kami berpapasan. Masih tanpa kata. Kulihat dia sudah memegang kunci dan bergegas pergi.
Petugas itu memintaku untuk mengisi identitas. Dia menyodorkan sebuah kunci yang bernomor 72. Ditunjukkannya kepadaku denah ruangan yang akan kutempati. Aku menawar tempat yang lebih dekat dengan kaca besar yang menghadap ke danau. Tidak ada, sudah diambil oleh Ibu tadi, begitu jawabnya. Dalam hati aku menyesal membiarkannya dilayani lebih dulu. Perempuan itu dapat memilih tempat strategis yang aku inginkan. Aku pun menerima kunci nomor 72. Aku bergegas menuju ke ruang kubikus.
Ruang berbentuk kubik ini akan menjadi hakku selama tiga bulan. Aku telah mengantre selama tujuh bulan demi mendapatkan hak ini, meski mendapatkan ruang yang tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Ruang ini adala hak gunaku, hak pakaiku. Aku tidak punya hak memilikinya. Bahkan hak pakaiku pun terbatas oleh waktu. Di dalamnya, disediakan meja kerja yang representatif. Ada loker yang dilengkapi kunci pula, rak bersusun, dan space yang cukup luas untuk merebahkan badan. Yang aku tak tahu, di kubikku ini ada dua kursi di dalamnya. Kuperhatikan sekitarku, mereka hanya mendapat satu kursi saja. Lalu, ini kursi siapa?
Dua kursi di ruang kerjaku. Kukira, memang seharusnya aku tak sendirian berada di kubik ini. Aku selalu butuh kawan untuk berbincang, sekadar teman makan, atau berdiskusi tentang pekerjaan yang seringkali membuatku penat dan tak mampu menyelesaikannya dengan cepat. Tiba-tiba saja aku teringat pada perempuan tadi. Dia yang sempat bertatap lagi denganku saat berjalan menuju tangga keluar. Aku menawarkan senyumanku padanya. Dengan agak segan Ia pun membalas senyumku, sekadarnya. Lalu kami berjalan masing-masing, berlawan arah.
Aku ingin nanti menemuinya. Aku ingin kami berbagi ruang ini. Sesekali aku ingin berada di kubiknya. Sesekali kubiarkan Ia berada di kubikku. Aku akan menyambutnya dengan suka cita, jika berkenan Ia berbagi denganku. Aku memang tak mengenalnya. Tapi pertemuan kami pastilah bagian dari kisah yang ditulis oleh penulis skenario untuk digarap sang sutradara. Meskipun kelak masa itu akan berakhir, karena sekali lagi, kami hanya memiliki hak guna, bukan hak milik. Berlanjut atau tidaknya pertemuan ini, bergantung pada yang punya cerita. Tunggu saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar